PenaPublik
HOMEPemerintahanMelirikDesaPesonaBincangFigur
FeaturedPERISTIWA#Cisarua#DanaDesa#Puncak#BLTDanaDesa
PENAPUBLIK.COM Kami percaya bahwa setiap individu memiliki suara yang berharga. Melalui tulisan, gagasan dapat disebarluaskan, dipertukarkan, dan diubah menjadi aksi nyata. PenaPublik.com hadir sebagai jembatan antara pemikiran, informasi, dan perubahan sosial yang positif.
Teks contoh
JELAJAHI
Tentang KamiRedaksiPedoman MediaKebijakan PrivasiKontak
JELAJAHI
Berita TerkiniPolitikEkonomiTeknologiOlahraga
IKUTI KAMI
© 2026 PenaPublik.com . All rights reserved.
    HOMEBINCANGDari "Ngetem" Hingga Regulasi di Rumah Sakit, Ini Kata Aktivis Bosel
    Bincang

    Dari "Ngetem" Hingga Regulasi di Rumah Sakit, Ini Kata Aktivis Bosel

    Bukan tentang trayek angkot saja yang mengalami "Ngetem" dengan waktu yang tidak sebentar, pelayanan di sebuah Rumah Sakit Pemerintah pun terjadi hal yang sama

    24 Januari 2019 pukul 06.45 WIBIwans
    Bagikan:
    Dari "Ngetem" Hingga Regulasi di Rumah Sakit, Ini Kata Aktivis Bosel
    Dari "Ngetem" Hingga Regulasi di Rumah Sakit, Ini Kata Aktivis Bosel.
    #Jadikan PenaPublik.com sumber pilihan pencarian Google

    Ciawi, PenaPublik.com - Bukan tentang trayek angkot saja yang mengalami "Ngetem" dengan waktu yang tidak sebentar, pelayanan di sebuah Rumah Sakit Pemerintah pun terjadi hal yang sama. Hal itu di ungkapkan aktivis Bogor Selatan dan aktivis kesehatan. Azet Basuni, mengatakan saat dirinya menemani saudara yang akan memeriksakan mata di RSUD Ciawi cukup menguras waktu. "Bayangkan saja dari pukul 08.15 WIB hingga siang hari sekitar pukul 12.00 WIB, dari mulai pengambilan nomor antrian hingga pemeriksaan dilakukan dokter yang bertugas itu cukup lama," keluhnya, pada Rabu (23/1). Kekecewaan Azet tidak terletak pada pelayanan pemeriksaan atau medis di RS tersebut, melainkan pada lamanya antrian yang dilakukan. dimana lamanya antrian hingga berjam-jam dan seringkali melihat nomor antrian tak kunjung berubah sampai 2 jam lamanya. "Tadinya saya mau periksa mata, tetapi akhirnya tidak jadi. Ketika kita ngantri itu di nomor antrian itu jelas ya 22 tapi yang muncul 27 sampai ngetem itu 2 jam lebih, artinya ketika saya masuk kedalam berkas-berkas daripada pasien itu ada, akhirnya punya saya dinaikin lagi itu berkas tersebut. Gak lama saya keluar dipanggil lah itu, nah hal semacam ini tidak baik juga tentunya ketika banyak pasien yang ngantri dibelakang ternyata banyak orang yang lalu lalang keruangan tersebut saya tidak tau apa orang itu karena memang ingin cepat atau karena memang udah daftar duluan," tuturnya. Oleh karena itu masih kata Azet, Ini berarti sistem yang ada di RSUD Ciawi khususnya tadi di Klinik Mata itu yang harus diperbaiki, tidak bisa seperti itu, pasien mau periksa mata saja sampai nunggu berjam-jam itu kurang layak sekelas RSUD. "Nah ini tentunya harus diperbaiki, sistem yang harus dirubah. Apakah memang ini petugas klinik mata di RSUD Ciawi ini kurang dokter, perawat atau pemeriksanya saya tidak tau? yang jelas Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dirut RSUD Ciawi mengevaluasi harusnya ketika memang aduan masyarakat seperti itu, masyarakat banyak yang ngeluh karena lamanya penanganan termasuk saya pribadi," tandasnya. Ditempat yang sama, Syamsul Bahri, aktivis kesehatan yang saat itu sedang berupaya membantu membawa salah satu anak rekan sewaktu di SMP seorang warga Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua atas nama Alfian Ramadhan (17 tahun) dengan mengendarai sendiri mobil ambulance-nya menanggapi bahwa menurutnya yang harus disikapi adalah regulasi di Rumah Sakit tersebut. "Sebenarnya ada beberapa hal yang memang belum kondusif diantara sesama pihak manajemennya, gampang sekali menyampaikan kepada mereka apalagi pasien tersebut adalah pasien BPJS dengan menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari pihak Desa, mereka agak sedikit kurang serius menangani pasien. Cuma jika kita memang hapal dan kita punya otoritas dibidang ini insha Allah penuh dengan solusi, kita juga bisa direct ke Dirut terutama RSUD Ciawi bisa langsung ke Ibu Hesti dalam hal ini," paparnya.

    Syamsul Bahri saat mengevakuasi warga Tugu Selatan ke RSUD Ciawi
    Syamsul Bahri saat mengevakuasi warga Tugu Selatan ke RSUD Ciawi
    Intinya menurut Syamsul yang juga aktivis Bosel, sebenarnya banyak solusi yang penting mau berbuat dan niat baik untuk masyarakat. Karena jika di diamkan penyakit itu makin banyak dan bertambah, jadi semuanya kembali kepada regulasi. "Barusan saya dan kader IPSM Tugu Selatan terjun langsung mendaftar ulang dan hasil cek-up kami serahkan kembali kepada dokter yang sedang tugas, Kebetulan ibunya itu teman SMP saya dan anaknya terkena usus buntu kronis. Alhamdulillah tadi mendengar informasi bahwa besok akan dilakukan operasi." pungkasnya. Reporter : Taufik/Adeas

    Penulis: Iwans|Editor: —
    FeaturedSOSIALKESEHATAN
    I

    Penulis

    Iwans

    ARTIKEL TERKAIT

    Ketua AAI Kota Bogor Siap Dampingi Korban Peristiwa Diduga PembacokanBincang

    Ketua AAI Kota Bogor Siap Dampingi Korban Peristiwa Diduga Pembacokan

    Trisula Jambuluwuk Inginkan Lingkungan yang Aman, Nyaman dan TentramBincang

    Trisula Jambuluwuk Inginkan Lingkungan yang Aman, Nyaman dan Tentram

    Muhamad Iwan Setiawan: Saya Ingin Bangun Kedekatan Pelayanan MasyarakatBincang

    Muhamad Iwan Setiawan: Saya Ingin Bangun Kedekatan Pelayanan Masyarakat

    Agung Setiawan :  Kita Bakal Buat Program Pemberdayaan Di Tahun 2019Bincang

    Agung Setiawan : Kita Bakal Buat Program Pemberdayaan Di Tahun 2019

    Bincang Desa : Supratno Prasetyo, Sekilas Kisahnya Hingga Menjadi Kepala Desa BanjarwangiBincang

    Bincang Desa : Supratno Prasetyo, Sekilas Kisahnya Hingga Menjadi Kepala Desa Banjarwangi

    Nuraema : Bupati Terpilih Harus Keluarkan Aturan Gaji Guru HonorerBincang

    Nuraema : Bupati Terpilih Harus Keluarkan Aturan Gaji Guru Honorer

    TERPOPULER

    Tambah Layanan Bagi Masyarakat, Danrem 061/Suryakencana Resmikan Posramil Megamendung
    Pemerintahan

    Tambah Layanan Bagi Masyarakat, Danrem 061/Suryakencana Resmikan Posramil Megamendung

    Pengurus Lingkungan Sesalkan Aktivitas Cut and Fill Tak Ada Ijin Wilayah
    Melirik

    Pengurus Lingkungan Sesalkan Aktivitas Cut and Fill Tak Ada Ijin Wilayah

    Sungai Cisarua Puncak Keruh Tercemar, Warga Didua Desa Ngamuk
    Melirik

    Sungai Cisarua Puncak Keruh Tercemar, Warga Didua Desa Ngamuk

    Inspiratif…Siswa SLB Kota Bogor Raih Juara 2 Desain Grafis FLS3N Tingkat Jawa Barat
    Melirik

    Inspiratif…Siswa SLB Kota Bogor Raih Juara 2 Desain Grafis FLS3N Tingkat Jawa Barat

    Jelang Akhir Tahun, Pemdes Jambuluwuk Ciawi Gelar Sosialisasi Berbagai Program
    Desa

    Jelang Akhir Tahun, Pemdes Jambuluwuk Ciawi Gelar Sosialisasi Berbagai Program

    Wujud Kepedulian Sosial, Kades dan Tokoh Masyarakat Cipayung Girang Apresiasi Vihara Bio Kwan Im
    Melirik

    Wujud Kepedulian Sosial, Kades dan Tokoh Masyarakat Cipayung Girang Apresiasi Vihara Bio Kwan Im

    Lihat Semua