Tingkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan, Direktur RSUD Idham Khalid Ciawi Siap Dikritik
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Idham Khalid Ciawi menegaskan komitmennya untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan

CIAWI, PENAPUBLIK.COM– Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Idham Khalid Ciawi menegaskan komitmennya untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.Hal tersebut disampaikan dr. Agus Fauzy, Direktur RSUD Idham Khalid Ciawi dalam Forum Konsultasi Publik yang digelar diruang aula RSUD pada Selasa (11/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, dr. Agus Fauzy menyatakan pihaknya membuka ruang dialog seluas-luasnya untuk menerima kritik yang konstruktif, berorientasi pada perbaikan, dan transparan.
"Namanya pelayanan memang tidak ada yang sempurna, namun kami akan terus meningkatkan guna penyempurnaan. Kami akan benahi. Kami tidak anti kritik," ujar Plt Direktur RSUD Idham Khalid Ciawi dr. Agus Fauzy.
Salah satu komitmen utama yang disampaikan adalah tidak ada lagi penolakan pasien di RSUD Idham Khalid. Ia menegaskan, jika pasien membutuhkan rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap, pihak rumah sakit akan mengantarkannya.
"Tidak boleh ada lagi penolakan pasien. Jikalau butuh rujukan kita antar karena itu sebagai wujud komitmen kita pada pelayanan masyarakat," tegasnya.
Untuk mewujudkan pelayanan yang humanis, dr. Agus meminta seluruh tenaga kesehatan dan staf menerapkan budaya 5 S yakni Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun.
"Kami ingin pelayanan RS yang baik, pelayanan ramah dan responsif. Setiap masukan yang kami terima akan terus kami evaluasi untuk perbaikan tata kelola pelayanan agar manfaatnya nyata bagi masyarakat," tuturnya.
Sebagai RSUD Tipe B, RSUD Idham Khalid Ciawi kini menjadi rujukan bagi masyarakat dari berbagai wilayah, termasuk Kota Depok. Saat ini rumah sakit telah memiliki dokter spesialis serta sarana dan prasarana untuk layanan jantung dan bedah saraf
"Berkat dukungan berbagai pihak, kami memiliki SDM yang mumpuni, dokter spesialis, agar bisa menjadi lebih baik," katanya.
Dari perspektif akademisi, Maria Fitriah, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, menilai pelayanan prima tidak hanya ditentukan oleh kualitas medis, tetapi juga komunikasi.
"Komunikasi harus empatik. Tenaga kesehatan perlu menempatkan diri pada posisi pasien dan menggunakan bahasa yang sederhana, bukan bahasa teknis yang membingungkan," ujar Maria Fitriah.
Ia juga menyarankan rumah sakit memanfaatkan media sosial, video edukasi, dan animasi agar informasi kesehatan menjangkau semua lapisan masyarakat. Rumah sakit juga harus proaktif 'jemput bola' ke masyarakat melalui Posyandu dan Forum Desa.
"Inovasi juga diperlukan dalam pelayanan obat. Kerja sama dengan platform kesehatan digital untuk antar obat ke rumah akan sangat membantu pasien." tandasnya. (Fik/Redaksi).
Penulis
RedaksiARTIKEL TERKAIT
MelirikPengurus Lingkungan Sesalkan Aktivitas Cut and Fill Tak Ada Ijin Wilayah
MelirikSungai Cisarua Puncak Keruh Tercemar, Warga Didua Desa Ngamuk
MelirikInspiratif…Siswa SLB Kota Bogor Raih Juara 2 Desain Grafis FLS3N Tingkat Jawa Barat
MelirikWujud Kepedulian Sosial, Kades dan Tokoh Masyarakat Cipayung Girang Apresiasi Vihara Bio Kwan Im
MelirikMasa Jabatan KDM Berakhir, Camat Heri Lantik Arbik Pimpin Desa Cibeureum
Melirik